Kini Mei
Melangkah pasti untuk terlepas dalam memori yang hampir menjadi akar serabut. Sulit karena mereka sudah melebar ke segala penjuru ingatanku.
Kini aku memulai lembaran baru, seperti pintaku pada Tuhan. Namun, akankah tetap menjadi rutinitas ataukah aku memang ingin berhenti sejenak. Atau tidak sejenak?
Kini aku merasakan lagi kosong itu. Seperti rumah tak berpenghuni, seperti rumah tanpa ibu - hampa. Aku selalu sampaikan pada mereka, hidupku mengikuti air mengalir. Entah takdir membawaku ke mana, memang aku teramat buntu tidak tahu lagi harus ke mana. Makanya kujawab saja air mengalir. Tanpa tujuan tanpa arah tanpa tahu ingin ke mana.
Jengah.
Kini Mei
Reviewed by anakpakirjik
on
5:06 PM
Rating: 5